Saat itu hujan turun deras, kakiku
melangkah mencari tempat berteduh. Sudah seminggu ini aku mengikuti survei
tentang masyarakat Depok yang memiliki perekonomian menengah ke bawah.
Kuletakkan tasku di samping tempat duduk di depan emperan toko dan melepas
lelah sejenak setelah berjalan seharian di bawah terik matahari.
Kulihat seorang nenek yang menggigil kedinginan
duduk di emperan toko. kutawarkan tempat dudukku untuknya tapi ia menolak
dengan halus dan berkata, "Sudah gak apa-apa neng, nenek disini aja. Neng
pasti capek udah jalan seharian". Sempat terbersit pertanyaan mengapa
nenek itu bisa tahu tentang kegiatanku seharian ini.
"Nenek tahu Neng lagi survei di kampung ini
soalnya Neng nglewatin rumah Nenek beberapa kali" sahutnya menjawab
pertanyaan di dalam hatiku. Kembali aku dikagetkan dengan kejujuran nenek ini,
"Kok Nenek bisa tahu saya lagi survei disini?" tanyaku penasaran.
"Kampung ini sering ada anak-anak kayak Neng yang disuruh survei, tapi
saya ndak pernah diwawancarai Neng" ucapnya yang disertai
dengan senyum pedih di bibir dan matanya. Semakin aku dibuat penasaran oleh
ucapan sang nenek.
"Maaf Nek, kalau saya boleh nanya, apa
Nenek punya KTP Depok? Mungkin itu penyebab selama ini Nenek tidak pernah
terdaftar di dalam survei".
"Saya ndak punya KTP
Depok, Neng. Saya orang asli Pekalongan", dengan pandangan menerawang sang
nenek menjelaskan.
"Saya sudah tinggal disini hampir 45 tahun,
tapi saya ndak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah yang
seperti orang-orang biasanya rebutin, saya masih merasa mampu, Neng. Mungkin
pemerintah sedang sibuk ngurusin negara ini ya Neng? hehe ".
Masya Allah batinku tercekat, di saat ia
kesusahan ia masih bisa berprasangka baik tanpa menyalahkan kinerja pemerintah.
Di saat semua orang berebutan menerima bantuan, tetapi ia bersyukur dengan
keadaannya. Kuingat kebiasaanku yang suka mengeluh, merasa dunia tidak adil,
menyalahkan orang lain akan kesalahanku. Aku merasa sangat kecil di depan nenek
ini.
"Maaf Nek, nama Nenek siapa? Saya lupa nanya
mulai tadi ". Sambil menyeka tetesan air hujan dengan tangannya yang
gemetaran, sang nenek berkata, "Nama saya Khadijah, neng. Orang-orang
biasa manggil saya Mbok Ijah".
"Nenek tinggal sendiri di rumah? Rumah
Nenek di sebelah mana?" tanyaku.
"Nanti saya ajak ke rumah kalo hujannya
sudah berhenti, kasian Si Eneng nanti kehujanan" jawabnya dengan bibir
bergetar.
Setelah hujan reda, Mbok Ijah mengajakku pergi
mampir ke rumahnya. Kita berjalan sekitar 500 meteran dan kini aku berdiri di
depan sebuah musholla kecil yang bersih. Dengan agak heran aku bertanya,
"Nenek mau sholat dulu disini?".
"Saya sudah sholat tadi, Neng. Ini rumah saya,
ayo silakan masuk " sambut sang nenek dengan senyum
mengembang. Hatiku mencelos, ternyata sang nenek tinggal di sebuah
musholla. Ingin menangis rasanya aku melihat ketabahannya. Ternyata musholla
ini yang aku lewati beberapa kali dan ini adalah rumah sang nenek
yang penuh ketabahan itu.
"Embaaahh....Embaahh...." kulihat dua
buah wajah kecil terbungkus jilbab kusam memanggil sang nenek dengan
girang.
"Embah, udah dapet makanan beluum? Nisa
laper, Mbah" dengan suara cadel si bocah berjilbab merah muda bertanya.
Dengan wajah keibuan Mbok Ijah berkata,
"Maaf Nduk, Embah belum dapet rejeki hari ini, kita makan
singkong dulu ya hari ini? Alhamdulillah Embah dibolehin metik di kebun Pak
Haji tadi".
Kemudian bocah yang berjilbab hitam yang
terlihat sedikit lebih tua usianya dibanding bocah berjilbab merah muda
menyahut, "Mbah, kita udah makan singkong 3 hari ini, perut Aisyah sakit
Mbah".
Dengan menahan pedih Mbok Ijah berkata,
"Aisyah sama Nisa yang sabar ya Nduk, Embah besok jalan
lebih jauh buat nyari sampah. Insya Allah besok kita bisa makan nasi" rayu
sang nenek.
"Yeeee, asyiikk
asyiiikk besok makan nasiii..." ujar kedua bocah itu sambil menari
kegirangan.
Aku tersenyum pedih melihat
kebahagiaan dibalik kesusahan mereka. Baru kumengerti kenapa sang nenek membawa
karung di dalam pelukannya tadi. Mungkin itu adalah hasil sampah yang ia
dapatkan hari ini.
Sang nenek berpamitan ke belakang, dan aku mengajak kedua bocah
tersebut bercanda. "Adek-adek udah hafal surat di Al-Quran apa aja
hayoo?".
Mereka berebutan
menjawab, "Aisyah hafal semua surat di juz amma, Kak
!" Aisyah yang berjilbab hitam menjawab.
"Kak Aisyah curang,
Nisa kan emang masih kecil pasti kalah sama Kakak" kata si kecil pura-pura
ngambek.
"Emang Adek Nisa udah hafal surat apa aja, Sayang?"
tanyaku pada si kecil Nisa. "Nisa baru hafal Al-Aadiyat, Al-Ma'un,
Al-Fiil, Al-Fatihah, Al-Falaq, Al-Ikhlas, An-Naas, hehe Nisa lupa apa aja,
Kak". Kembali aku dikagetkan dengan kemampuan mereka dalam menghafal
kalam Allah, padahal kutaksir usia mereka belum sampai 7 tahun. Kupikir betapa
hebatnya ibunda mereka dalam mendidik anak-anaknya. Padahal di zaman sekarang
ini, banyak kutemui anak-anak SD yang sudah kelas 6 masih belum lancar membaca
Iqra'. Masya Allah betapa hancurnya kehidupan zaman sekarang.
"Aisyah, Nisa, sayang, Ibu kalian kemana, dek? Kakak gak
kelihatan Ibu kalian dari tadi ". Si sulung Aisyah menjawab, "Ummi
lagi istirahat, Kak" jawabnya sambil tersenyum manis.
"Ummi lagi kecapekan ya, Dek?"
"Ummi gak kecapekan sama sekali Kak, Ummi malah udah
seneng-seneng sekarang"
Jawabannya yang sederhana membuatku bingung, kenapa ummi mereka
istirahat kalau tidak lelah?
Si kecil Nisa menjawab, "Kata Embah, Ummi udah di surga, Kak.
Wah, Ummi pasti seneng banget ketemu sama Allah ya Kak, bisa makan buanyaakk,
gak usah kelaperan kayak Nisa. Nisa jadi pengen ke surga deh, Kak" ujarnya
dengan polos.
Tak kuasa aku menahan tangisku, Ya Allah Engkau telah membawa
ibunda mereka pergi di saat mereka masih belum mengerti apakah kematian itu.
Kembali aku dibuat bersyukur dengan kondisi keluargaku, yang meskipun kedua
orangtuaku bercerai tapi mereka masih memberikan perhatian untukku dan kakakku.
Kembali aku berpikir, siapakah yang akan membimbing mereka untuk belajar,
mengaji, jika sang bunda telah tiada? Siapakah yang akan menuntun mereka
berjalan ke sekolah jika anak seusia mereka selalu ditemani ibu mereka?
Siapakah yang akan membuatkan mereka bekal ketika mereka sekolah?
Sang nenek kembali dengan dua buah aqua gelas di nampannya.
"Silakan diminum, Neng" Lho Si Eneng kok nangis?".
Dengan tersendat aku
mengucapkan terima kasih, dan bertanya, "Nek, apakah Nenek yang membimbing
mereka untuk mengaji?" tanyaku.
"Iya benar, Neng. Saya sadar dengan
kemampuan saya, saya tidak mampu membuat mereka bahagia dengan harta yang saya
miliki, tapi saya mampu mencukupi mereka dengan ilmu agama yang saya miliki.
Biarlah Allah mengkayakan hati mereka dengan iman di dada mereka, hanya itu
yang bisa saya perbuat untuk menyelamatkan dan membahagiakan mereka di akhirat
nanti".
Subhanallah, betapa mulianya sang
nenek dan kedua cucunya itu. Tak kuat aku menahan haru. Kubelikan mereka
makanan secukupnya, tak hentinya kudengar ucapan terima kasih dan hamdalah
berkali-kali. Aku pulang dengan membawa pertanyaan :
Mengapa kita sering mengeluh jika ada saudara kita yang membawa
beban lebih berat dari yang kita rasakan?
Mengapa kita sering mengutuk Allah atas takdirNya yang tidak
memuaskan padahal ada saudara kita yang bahkan tidak memiliki tempat
tinggal?
Mengapa kita sering menghujat rizki yang kita peroleh padahal di
luar sana masih banyak saudara kita yang kelaparan?
Mengapa kita sering mengagung-agungkan ilmu duniawi yang kita
miliki jika untuk membaca Al-Quran pun kita masih belum lancar?
Mengapa kita sering membangga-banggakan harta yang kita miliki
padahal bekal untuk mati masih belum memiliki?
Mengapa kita sering membanding-bandingkan kekayaan kita dengan
orang lain jika bersyukur itu lebih dari cukup?
Sudahkah kita bersyukur hari ini atas nikmat-nikmatNya yang tak
terbatas?
Sudahkah kita berkaca pada diri sendiri apa yang telah kita
lakukan untuk saudara kita yang kurang beruntung?
Sudahkah kita melihat sekeliling kita dengan arif dan bijaksana
mana yang patut kita syukuri?
Buka mata dan hati kita
saudaraku.
Kenapa kita tidak meniru
keikhlasan dan ketabahan sang nenek meskipun ia tidak mampu, ia berusaha
untuk memperlakukan tamu dengan baik walau hanya dengan 2 gelas aqua ?
Mengapa kita tidak
meniru semangat dua orang bidadari kecil itu dalam memperdalam agama?
Mengapa kita tidak memulai
untuk terus menerus bersyukur dimulai pada saat ini juga?
Catatan :
Terima kasih telah
menyempatkan membaca tulisan ini.
Terima kasih tak
terhingga untuk Nenek penjaga musholla dan cucunya.
Aku mendapatkan
pelajaran berharga dari kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan kalian.