Sabtu, 16 November 2013

Surga untuk Dina



Siang itu Dina berjalan dengan langkah gontai, masih terngiang teguran gurunya agar melunasi uang SPP sekolah yang menunggak selama tiga bulan. Gadis delapan tahun itu tahu bahwa ibunya takkan mampu melunasi uang sekolahnya, pun ia juga takkan tega bila harus meminta pada ibunya yang sehari-hari mengais rezeki dari tumpukan sampah. Siang itu pikiran Dina berkecamuk, di hari menjelang hari raya qurban ia tak sempat memikirkan kegembiraan di hari itu.
Pak Rahman, seorang saudagar kaya di kampung Dina saat itu berniat membeli hewan ternak berlimpah untuk merayakan Idul Qurban. Ia merasa, dengan menyumbangkan banyak ternak maka derajatnya tidak akan disamai oleh siapapun di kampung itu, rasa bangga akan hartanya yang berlimpah membuatnya lupa bersyukur bahwa pemberi segala nikmat hanyalah Allah semata.
Dina tidak memperhatikan langkahnya berjalan saat tiba-tiba di depannya muncul mobil Innova yang dikendarai oleh Pak Rahman. Sontak tubuh kecilnya tertabrak dan menggelepar di tanah. Pak Rahman yang tidak siap untuk mengerem sangat terkejut mendapati dirinya telah menabrak seorang gadis kecil. Segera ia turun dari mobil dan mendapati jilbab gadis itu sudah berlumuran darah, nalurinya mengatakan bahwa gadis itu masih hidup dan butuh pertolongan segera ke rumah sakit.
Dina mengerjapkan matanya dan mendapati ia berada pada sebuah tempat yang sangat indah, di sisi kanan kirinya ia melihat banyak gadis rupawan bersayap bersendagurau di dekat danau yang berwarna putih keemasan. Sejenak Dina terpana dimanakah ia sekarang. Rupanya tak butuh waktu lama pertanyaan itu dijawab oleh laki-laki bertudung putih bahwa ia kini ada di dalam surga. Dina terkejut, ia memikirkan bagaimana nasib ibunya sekarang, bagaimana sekolahnya, dan bagaimana orang-orang yang ia tinggalkan.
Pak Rahman sungguh terpukul ketika melihat monitor bahwa detak jantung Dina makin melemah dan akhirnya hilang. Ia tak tahu harus berbuat apa pada keluarga anak yang ditabraknya ini, atau bagaimana jika kejadian ini mencoreng nama baiknya. Ia menyesali kenapa pergi meninggalkan rumah, jika ia tidak pergi tentu kejadian ini tidak akan terjadi. Namun penyesalan tetap penyesalan, yang ia rasakan sekarang hanyalah perasaan bersalah dan rendah diri. Sebelum gadis itu meninggal, sayup-sayup ia mendengar lantunan ayat Ar-Rahman di dalam mulut yang tengah sekarat itu. Maka nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan? Kalimat itu terus bergaung di dalam kepalanya, ia merasa sangat kecil dibandingkan gadis kecil itu. Ia tak menyangka bahwa Dina adalah seorang gadis kecil yang ceria, pandai, dan selalu menuruti titah ibunya, dan ia juga yang mengambil Dina dari tangan ringkih ibunya.
Dina sadar waktunya di dunia telah habis, ia tidak punya waktu lagi untuk membahagiakan ibunya melihat dirinya sukses. Idul Qurban tahun ini akan ia rayakan dengan kebahagiaan murni tanpa kefanaan seperti di dunia.(gmia)




Depok, 10 Oktober 2013

Surga untuk Dina



Siang itu Dina berjalan dengan langkah gontai, masih terngiang teguran gurunya agar melunasi uang SPP sekolah yang menunggak selama tiga bulan. Gadis delapan tahun itu tahu bahwa ibunya takkan mampu melunasi uang sekolahnya, pun ia juga takkan tega bila harus meminta pada ibunya yang sehari-hari mengais rezeki dari tumpukan sampah. Siang itu pikiran Dina berkecamuk, di hari menjelang hari raya qurban ia tak sempat memikirkan kegembiraan di hari itu.
Pak Rahman, seorang saudagar kaya di kampung Dina saat itu berniat membeli hewan ternak berlimpah untuk merayakan Idul Qurban. Ia merasa, dengan menyumbangkan banyak ternak maka derajatnya tidak akan disamai oleh siapapun di kampung itu, rasa bangga akan hartanya yang berlimpah membuatnya lupa bersyukur bahwa pemberi segala nikmat hanyalah Allah semata.
Dina tidak memperhatikan langkahnya berjalan saat tiba-tiba di depannya muncul mobil Innova yang dikendarai oleh Pak Rahman. Sontak tubuh kecilnya tertabrak dan menggelepar di tanah. Pak Rahman yang tidak siap untuk mengerem sangat terkejut mendapati dirinya telah menabrak seorang gadis kecil. Segera ia turun dari mobil dan mendapati jilbab gadis itu sudah berlumuran darah, nalurinya mengatakan bahwa gadis itu masih hidup dan butuh pertolongan segera ke rumah sakit.
Dina mengerjapkan matanya dan mendapati ia berada pada sebuah tempat yang sangat indah, di sisi kanan kirinya ia melihat banyak gadis rupawan bersayap bersendagurau di dekat danau yang berwarna putih keemasan. Sejenak Dina terpana dimanakah ia sekarang. Rupanya tak butuh waktu lama pertanyaan itu dijawab oleh laki-laki bertudung putih bahwa ia kini ada di dalam surga. Dina terkejut, ia memikirkan bagaimana nasib ibunya sekarang, bagaimana sekolahnya, dan bagaimana orang-orang yang ia tinggalkan.
Pak Rahman sungguh terpukul ketika melihat monitor bahwa detak jantung Dina makin melemah dan akhirnya hilang. Ia tak tahu harus berbuat apa pada keluarga anak yang ditabraknya ini, atau bagaimana jika kejadian ini mencoreng nama baiknya. Ia menyesali kenapa pergi meninggalkan rumah, jika ia tidak pergi tentu kejadian ini tidak akan terjadi. Namun penyesalan tetap penyesalan, yang ia rasakan sekarang hanyalah perasaan bersalah dan rendah diri. Sebelum gadis itu meninggal, sayup-sayup ia mendengar lantunan ayat Ar-Rahman di dalam mulut yang tengah sekarat itu. Maka nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan? Kalimat itu terus bergaung di dalam kepalanya, ia merasa sangat kecil dibandingkan gadis kecil itu. Ia tak menyangka bahwa Dina adalah seorang gadis kecil yang ceria, pandai, dan selalu menuruti titah ibunya, dan ia juga yang mengambil Dina dari tangan ringkih ibunya.
Dina sadar waktunya di dunia telah habis, ia tidak punya waktu lagi untuk membahagiakan ibunya melihat dirinya sukses. Idul Qurban tahun ini akan ia rayakan dengan kebahagiaan murni tanpa kefanaan seperti di dunia.(gmia)




Depok, 10 Oktober 2013

Selasa, 05 November 2013

SIMFONI HUJAN



Langit menggelap kelam
Rintik hujan mulai turun
Semua berlari menghindari basah
Terkecuali hawa,
Ia berjalan di bawah tangis langit
Menikmati setiap inci tubuhnya basah oleh air kiriman surga
Jiwanya merasa tentram kala hujan turun
Tak peduli petir menyambar
Karena itulah simfoni hujan
Hujan mampu menutupi tangisnya turun membasah
Petir mampu meredam sesengguk tangis pedihnya
Hawa,
Berlari menyusuri hujan
Tangisnya kian merebak
Ia berlari,
Menembus hujan,
Ketakutan akan semua hal yang tak ia ketahui pasti
Ketakutan menghadapi dunianya yang semakin sunyi
Hawa berteriak,
Berharap simfoni hujan tak berhenti




Jumat, 26 April 2013

Nenek Penjaga Musholla


Saat itu  hujan turun deras, kakiku melangkah mencari tempat berteduh. Sudah seminggu ini aku mengikuti survei tentang masyarakat Depok yang memiliki perekonomian menengah ke bawah. Kuletakkan tasku di samping tempat duduk di depan emperan toko dan melepas lelah sejenak setelah berjalan seharian di bawah terik matahari. 

Kulihat seorang nenek yang menggigil kedinginan duduk di emperan toko. kutawarkan tempat dudukku untuknya tapi ia menolak dengan halus dan berkata, "Sudah gak apa-apa neng, nenek disini aja. Neng pasti capek udah jalan seharian". Sempat terbersit pertanyaan mengapa nenek itu bisa tahu tentang kegiatanku seharian ini.

"Nenek tahu Neng lagi survei di kampung ini soalnya Neng nglewatin rumah Nenek beberapa kali" sahutnya menjawab pertanyaan di dalam hatiku. Kembali aku dikagetkan dengan kejujuran nenek ini, "Kok Nenek bisa tahu saya lagi survei disini?" tanyaku penasaran. "Kampung ini sering ada anak-anak kayak Neng yang disuruh survei, tapi saya ndak pernah diwawancarai Neng" ucapnya yang disertai dengan senyum pedih di bibir dan matanya. Semakin aku dibuat penasaran oleh ucapan sang nenek.

"Maaf Nek, kalau saya boleh nanya, apa Nenek punya KTP Depok? Mungkin itu penyebab selama ini Nenek tidak pernah terdaftar di dalam survei".
"Saya ndak punya KTP Depok, Neng. Saya orang asli Pekalongan", dengan pandangan menerawang sang nenek menjelaskan.
"Saya sudah tinggal disini hampir 45 tahun, tapi saya ndak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah yang seperti orang-orang biasanya rebutin, saya masih merasa mampu, Neng. Mungkin pemerintah sedang sibuk ngurusin negara ini ya Neng? hehe ".

Masya Allah batinku tercekat, di saat ia kesusahan ia masih bisa berprasangka baik tanpa menyalahkan kinerja pemerintah. Di saat semua orang berebutan menerima bantuan, tetapi ia bersyukur dengan keadaannya. Kuingat kebiasaanku yang suka mengeluh, merasa dunia tidak adil, menyalahkan orang lain akan kesalahanku. Aku merasa sangat kecil di depan nenek ini.

 "Maaf Nek, nama Nenek siapa? Saya lupa nanya mulai tadi ". Sambil menyeka tetesan air hujan dengan tangannya yang gemetaran, sang nenek berkata, "Nama saya Khadijah, neng. Orang-orang biasa manggil saya Mbok Ijah". 
"Nenek tinggal sendiri di rumah? Rumah Nenek di sebelah mana?" tanyaku.
"Nanti saya ajak ke rumah kalo hujannya sudah berhenti, kasian Si Eneng nanti kehujanan" jawabnya dengan bibir bergetar.

Setelah hujan reda, Mbok Ijah mengajakku pergi mampir ke rumahnya. Kita berjalan sekitar 500 meteran dan kini aku berdiri di depan sebuah musholla kecil yang bersih. Dengan agak heran aku bertanya, "Nenek mau sholat dulu disini?".
"Saya sudah sholat tadi, Neng. Ini rumah saya, ayo silakan masuk " sambut sang nenek dengan senyum mengembang. Hatiku mencelos, ternyata sang nenek tinggal di sebuah musholla. Ingin menangis rasanya aku melihat ketabahannya. Ternyata musholla ini yang aku lewati beberapa kali  dan ini adalah  rumah sang nenek yang penuh ketabahan itu.

"Embaaahh....Embaahh...." kulihat dua buah wajah kecil terbungkus jilbab kusam memanggil sang nenek dengan girang. 
"Embah, udah dapet makanan beluum? Nisa laper, Mbah" dengan suara cadel si bocah berjilbab merah muda bertanya.
Dengan wajah keibuan Mbok Ijah berkata, "Maaf Nduk, Embah belum dapet rejeki hari ini, kita makan singkong dulu ya hari ini? Alhamdulillah Embah dibolehin metik di kebun Pak Haji tadi".
Kemudian bocah yang berjilbab hitam yang terlihat sedikit lebih tua usianya dibanding bocah berjilbab merah muda menyahut, "Mbah, kita udah makan singkong 3 hari ini, perut Aisyah sakit Mbah".

Dengan menahan pedih Mbok Ijah berkata, "Aisyah sama Nisa yang sabar ya Nduk, Embah besok jalan lebih jauh buat nyari sampah. Insya Allah besok kita bisa makan nasi" rayu sang nenek.
"Yeeee, asyiikk asyiiikk besok makan nasiii..." ujar kedua bocah itu sambil menari kegirangan.
Aku tersenyum pedih melihat kebahagiaan dibalik kesusahan mereka. Baru kumengerti kenapa sang nenek membawa karung di dalam pelukannya tadi. Mungkin itu adalah hasil sampah yang ia dapatkan hari ini.

Sang nenek berpamitan ke belakang, dan aku mengajak kedua bocah tersebut bercanda. "Adek-adek udah hafal surat di Al-Quran apa aja hayoo?".
Mereka berebutan menjawab, "Aisyah hafal semua surat di juz amma, Kak !" Aisyah yang berjilbab hitam menjawab.
"Kak Aisyah curang, Nisa kan emang masih kecil pasti kalah sama Kakak" kata si kecil pura-pura ngambek.

"Emang Adek Nisa udah hafal surat apa aja, Sayang?" tanyaku pada si kecil Nisa. "Nisa baru hafal Al-Aadiyat, Al-Ma'un, Al-Fiil, Al-Fatihah, Al-Falaq, Al-Ikhlas, An-Naas, hehe Nisa lupa apa aja, Kak". Kembali aku dikagetkan dengan kemampuan mereka dalam menghafal kalam Allah, padahal kutaksir usia mereka belum sampai 7 tahun. Kupikir betapa hebatnya ibunda mereka dalam mendidik anak-anaknya. Padahal di zaman sekarang ini, banyak kutemui anak-anak SD yang sudah kelas 6 masih belum lancar membaca Iqra'. Masya Allah betapa hancurnya kehidupan zaman sekarang.

"Aisyah, Nisa, sayang, Ibu kalian kemana, dek? Kakak gak kelihatan Ibu kalian dari tadi ". Si sulung Aisyah menjawab, "Ummi lagi istirahat, Kak" jawabnya sambil tersenyum manis. 
"Ummi lagi kecapekan ya, Dek?"
"Ummi gak kecapekan sama sekali Kak, Ummi malah udah seneng-seneng sekarang"
Jawabannya yang sederhana membuatku bingung, kenapa ummi mereka istirahat kalau tidak lelah?
Si kecil Nisa menjawab, "Kata Embah, Ummi udah di surga, Kak. Wah, Ummi pasti seneng banget ketemu sama Allah ya Kak, bisa makan buanyaakk, gak usah kelaperan kayak Nisa. Nisa jadi pengen ke surga deh, Kak" ujarnya dengan polos.

Tak kuasa aku menahan tangisku, Ya Allah Engkau telah membawa ibunda mereka pergi di saat mereka masih belum mengerti apakah kematian itu. Kembali aku dibuat bersyukur dengan kondisi keluargaku, yang meskipun kedua orangtuaku bercerai tapi mereka masih memberikan perhatian untukku dan kakakku. Kembali aku berpikir, siapakah yang akan membimbing mereka untuk belajar, mengaji, jika sang bunda telah tiada? Siapakah yang akan menuntun  mereka berjalan ke sekolah jika anak seusia mereka selalu ditemani ibu mereka? Siapakah yang akan membuatkan mereka bekal ketika mereka sekolah?

Sang nenek kembali dengan dua buah aqua gelas di nampannya. "Silakan diminum, Neng" Lho Si Eneng kok nangis?".
Dengan tersendat aku mengucapkan terima kasih, dan bertanya, "Nek, apakah Nenek yang membimbing mereka untuk mengaji?" tanyaku.
       
                   "Iya benar, Neng. Saya sadar dengan kemampuan saya, saya tidak mampu membuat mereka bahagia dengan harta yang saya miliki, tapi saya mampu mencukupi mereka dengan ilmu agama yang saya miliki. Biarlah Allah mengkayakan hati mereka dengan iman di dada mereka, hanya itu yang bisa saya perbuat untuk menyelamatkan dan membahagiakan mereka di akhirat nanti".

                     Subhanallah, betapa mulianya sang nenek dan kedua cucunya itu. Tak kuat aku menahan haru. Kubelikan mereka makanan secukupnya, tak hentinya kudengar ucapan terima kasih dan hamdalah berkali-kali. Aku pulang dengan membawa pertanyaan :

Mengapa kita sering mengeluh jika ada saudara kita yang membawa beban lebih berat dari yang kita rasakan?
Mengapa kita sering mengutuk Allah atas takdirNya yang tidak memuaskan  padahal ada saudara kita yang bahkan tidak memiliki tempat tinggal?
Mengapa kita sering menghujat rizki yang kita peroleh padahal di luar sana masih banyak saudara kita yang kelaparan?
Mengapa kita sering mengagung-agungkan ilmu duniawi yang kita miliki jika untuk membaca Al-Quran pun kita masih belum lancar?
Mengapa kita sering membangga-banggakan harta yang kita miliki padahal bekal untuk mati masih belum memiliki?
Mengapa kita sering membanding-bandingkan kekayaan kita dengan orang lain jika bersyukur itu lebih dari cukup?

Sudahkah kita bersyukur hari ini atas nikmat-nikmatNya yang tak terbatas?
Sudahkah kita berkaca pada diri sendiri apa yang telah kita lakukan untuk saudara kita yang kurang beruntung?
Sudahkah kita melihat sekeliling kita dengan arif dan bijaksana mana yang patut kita syukuri?



Buka mata dan hati kita saudaraku.
Kenapa kita tidak meniru keikhlasan dan ketabahan sang nenek meskipun ia tidak mampu, ia  berusaha untuk memperlakukan tamu dengan baik walau hanya dengan 2 gelas aqua ?
Mengapa kita tidak meniru semangat dua orang bidadari kecil itu dalam memperdalam agama?
Mengapa kita tidak memulai untuk terus menerus bersyukur dimulai pada saat ini juga?



Catatan :
Terima kasih telah menyempatkan membaca tulisan ini.
Terima kasih tak terhingga untuk Nenek penjaga musholla dan cucunya.
Aku mendapatkan pelajaran berharga dari kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan kalian.