Siang itu Dina
berjalan dengan langkah gontai, masih terngiang teguran gurunya agar melunasi
uang SPP sekolah yang menunggak selama tiga bulan. Gadis delapan tahun itu tahu
bahwa ibunya takkan mampu melunasi uang sekolahnya, pun ia juga takkan tega
bila harus meminta pada ibunya yang sehari-hari mengais rezeki dari tumpukan
sampah. Siang itu pikiran Dina berkecamuk, di hari menjelang hari raya qurban
ia tak sempat memikirkan kegembiraan di hari itu.
Pak Rahman, seorang
saudagar kaya di kampung Dina saat itu berniat membeli hewan ternak berlimpah
untuk merayakan Idul Qurban. Ia merasa, dengan menyumbangkan banyak ternak maka
derajatnya tidak akan disamai oleh siapapun di kampung itu, rasa bangga akan
hartanya yang berlimpah membuatnya lupa bersyukur bahwa pemberi segala nikmat
hanyalah Allah semata.
Dina tidak
memperhatikan langkahnya berjalan saat tiba-tiba di depannya muncul mobil
Innova yang dikendarai oleh Pak Rahman. Sontak tubuh kecilnya tertabrak dan
menggelepar di tanah. Pak Rahman yang tidak siap untuk mengerem sangat terkejut
mendapati dirinya telah menabrak seorang gadis kecil. Segera ia turun dari
mobil dan mendapati jilbab gadis itu sudah berlumuran darah, nalurinya
mengatakan bahwa gadis itu masih hidup dan butuh pertolongan segera ke rumah
sakit.
Dina mengerjapkan
matanya dan mendapati ia berada pada sebuah tempat yang sangat indah, di sisi
kanan kirinya ia melihat banyak gadis rupawan bersayap bersendagurau di dekat
danau yang berwarna putih keemasan. Sejenak Dina terpana dimanakah ia sekarang.
Rupanya tak butuh waktu lama pertanyaan itu dijawab oleh laki-laki bertudung
putih bahwa ia kini ada di dalam surga. Dina terkejut, ia memikirkan bagaimana
nasib ibunya sekarang, bagaimana sekolahnya, dan bagaimana orang-orang yang ia
tinggalkan.
Pak Rahman sungguh
terpukul ketika melihat monitor bahwa detak jantung Dina makin melemah dan
akhirnya hilang. Ia tak tahu harus berbuat apa pada keluarga anak yang
ditabraknya ini, atau bagaimana jika kejadian ini mencoreng nama baiknya. Ia
menyesali kenapa pergi meninggalkan rumah, jika ia tidak pergi tentu kejadian
ini tidak akan terjadi. Namun penyesalan tetap penyesalan, yang ia rasakan
sekarang hanyalah perasaan bersalah dan rendah diri. Sebelum gadis itu
meninggal, sayup-sayup ia mendengar lantunan ayat Ar-Rahman di dalam mulut yang
tengah sekarat itu. Maka nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan? Kalimat itu
terus bergaung di dalam kepalanya, ia merasa sangat kecil dibandingkan gadis
kecil itu. Ia tak menyangka bahwa Dina adalah seorang gadis kecil yang ceria,
pandai, dan selalu menuruti titah ibunya, dan ia juga yang mengambil Dina dari
tangan ringkih ibunya.
Dina sadar waktunya
di dunia telah habis, ia tidak punya waktu lagi untuk membahagiakan ibunya melihat
dirinya sukses. Idul Qurban tahun ini akan ia rayakan dengan kebahagiaan murni
tanpa kefanaan seperti di dunia.(gmia)
Depok, 10 Oktober
2013
